MAN Kotawaringin Timur

MADRASAH ALIYAH NEGERI

Kotawaringin Timur

KABAR MADRASAH

DEFORESTASI- AKANKAH HUTAN KALIMANTAN HANYA MENJADI KENANGAN

254 views
September 27, 2021
foto Gomedi

Air bersih langka, sungai-sungai tercemar,hutan gundul, sampah diselokan berhamburan, ratik-ratik berserakan. Cuaca sekarang tidak menentu, perubahan iklim tidak bisa diprediksi lagi. Alam sudah berubah, tanah-tanah tidak bisa digarap dijadikan lahan perkebunan. Ikan dialiran sungai tak ada lagi. Berburu sudah tidak bisa dan bukan lagi menjadi kebiasaan, fauna sudah punah. Flora tidak ada tumbuh, semua menjadi kenangan belaka. Dulu hutan kami terkenal dengan orang utan, angkasa kami dipenuhi burung-burung, terkhusus enggang burung kebanggaan kami, mereka sekarang punah, identitas itu menjadi patung-patung yang mereka pahat dari pasir dan batu dan kerangka besi, itu yang hanya bisa kami kenang, entah mengapa mereka membuat patung-patung itu, kenapa tidak melestarikan alam saja sedari dulu? Kami hidup dalam kerusakan alam yang parah sebut saja kami hidup di tahun 2100.

Kami anak rimba, suka berenang disungai, main dihutan berburu burung, kijang dan lain-lain. Tapi itu hanya hayalan pada zaman sekarang, itu hanya bisa dirasakan generasi terdahulu, kami sekarang lebih banyak bergaul dengan handphone dan main game.

Sebagai cucu-cucu mereka yang sekarang menjadi penerus generasi, tapi alam kami tidak disisakan. Yang tertinggal hanya kerusakan. Polusi memperparah keadaan, ditambah kebakaran hutan dan lahan, asap terjadi dimana-mana. Penyakit banyak menyerang manusia, keseimbangan alam tiada lagi. Teknologi yang ada tak bisa banyak membantu. Kalimantan yang alamnya indah hanya bisa dihayalkan itupun dari cerita orang tua dulu. Karena orang tua sekarang jarang berumur panjang akibat efek samping makanan modern yang serba instan.

Ada satu alternatif, sedihnya kami hanya bisa melihat keadaan hutan Kalimantan di kanal Youtube saja. Beberapa YouTubers mengabadikan hutan Kalimantan sebagai dokumentasi mereka, mungkin sebagai kenangan atau warisan ke generasi berikutnya, untung saja masih bisa kami lihat bagaimana indahnya alam Kalimantan. Iya, Kalimantan, disanalah kami berasal.

 

Kalimantan terkenal dengan hutannya, orang mengatakan disana letaknya paru-paru dunia, iya paru-paru! Bagian dari organ penting dalam kehidupan. Namun, apakah sebutan tersebut masih layak disandang? Entahlah. Hutan dulunya lebat kini dibabat, resapan air semakin tipis,sampah-sampah semakin meningkat. Aliran sungai penuh dengan ratik.

Sejak terjadinya alih fungsi lahan menjadi berbagai macam sekat bisnis para pemodal dan elit pemerintah, hutan Kalimantan terus tergerus keberadaannya, pohon-pohon banyak ditebang, tanpa ada penanaman ulang untuk penghijauan kembali, alih fungsi yang sangat signifikan terjadi, bisa dilihat keberadaan kebun sawit yang membumi. Hutan adat terancam, masyarakat tak berdaya. Belum lagi ditambah limbah pabrik yang pastinya banyak zat-zat kimiawi yang merusak.

Dikutip dari dw.com 06/06/2017. Dana Lingkungan Hidup, World Wildlife Fund, memprediksi Kalimantan akan kehilangan 75 persen luas wilayah hutannya pada 2020 menyusul tingginya laju deforestasi. Hal itu diungkapkan dalam laporan tahunan mengenai situasi lingkungan di kalimantan yang dipublikasikan WWF Indonesia dan Malaysia.

Dari sekitar 74 juta hektar hutan yang dimiliki Kalimantan, hanya 71% yang tersisa pada 2005. Sementara jumlahnya pada 2015 menyusut menjadi 55%. Jika laju penebangan hutan tidak berubah, Kalimantan diyakini akan kehilangan 6 juta hektar hutan hingga 2020, artinya hanya kurang dari sepertiga luas hutan yang tersisa.

Ekositem terancam, disaat musim hujan sebagian wilayah kita khawatir kebanjiran, disaat musim kemarau kita khawatir terjadinya pembakaran lahan yang tak bertanggung jawab, terjadilah bencana asap. Malang niang nasib kalimantan!

Belum dengan fauna yang mulai langka, sebut saja burung enggang. Di kota sampit misalnya daerah samuda yang sekarang masyarakat dibantaran sungai terancam oleh keberadaan buaya-buaya yang habitatnya mulai rusak, sungai-sungai kecil dimasuki buaya. Padahal dulu masih aman-aman saja. Dari sini memang ada permasalahan dengan ekosistem kita. Laju deforestasi juga memusnahkan habitat satwa langka seperti orangutan. “Kita harus bertindak sekarang dan secepat mungkin untuk menyelamatkan hutan Kalimantan,” kata Direktur WWF Malaysia, Dionysius Sharma. (dw.com 06/06/2017)

Dikutip dari laman berita CNN Indonesia 19/01/2021. Menurut analisa “Contributor and Victiim-Indonesia’s Role in Global Climate Change with Special Reference to Kalimantan” yang dipublikasi tahun 2009, deforestasi memiliki peran yang besar dalam memperparah kondisi krisis iklim.

Dari Studi mengungkapkan bahwa kawasan hutan Indonesia menyimpan 24 miliar ton karbon yang berperan penting dalam pengendalian perubahan iklim.Namun selama 1995-2005, tutupan hutan menurun dari 50,2 persen menjadi 48,4 persen. Dari jumlah itu, Sebanyak 57 persen dari total deforestasi terjadi karena pelepasan lahan dan kebakaran hutan.(CNN Indonesia 19/01/2021)

Aktivis Lingkungan Joe Priastana mengaku heran, di antara banyaknya pemeluk agama di Indonesia belum sadar  betapa pentingnya merawat alam dan melestarikan lingkungan. Padahal, dalam ajaran agama mana pun sudah sangat jelas menjaga alam, menjaga hutan, fauna dan tumbuh-tumbuhan merupakan bagian dari ajaran agama.(NU online 15/05/2020)

Bagi insan yang beriman sudah barang tentu merefleksi hal ini, bencana banjir yang kerap terjadi dari sisi lain merupakan kelalaian ummat manusia, menjadikan bencana ini sebagai cerminan pada diri untuk bermuhasabah. Apa yang sudah kita lakukan pada alam? sudahkah kita menjaganya? sudahkah kita menjaga lingkungan? misal dengan tidak membuang sampah sembarangan? Atau sebagai pemerintah yang berwenang, kebijakan apa yang sudah kita lakukan untuk daerah? sebagai ulama, ustadz, romo, pastur, pendeta,biksu, dan semua pendidik, sudahkah mengingatkan para murid, para jama’ah dan pengikut? Jangan sampai kita lalai, lupa, bahwa akan ada generasi selanjutnya untuk meneruskan estafet kehidupan, yaitu anak cucu kita.

 

oleh Muhammad Rajul Kahfi